Thursday, November 18, 2010

Cara Makan Steamboat Yang Benar - Emang Ada??

Barusan saya makan di Steamboat Sentul di Bogor bersama keluarga. Sambil menunggu pesanan kami datang, saya iseng-iseng memperhatikan cara orang makan Steamboat dan ternyata semua makan dengan cara yang sama; masukan semua bahan bersamaan setelah kuah mendidih, lalu tunggu sebentar, kemudian ambil bahan yang disukai bersama kuahnya, masukan ke dalam mangkok, celupkan bahan ke dalam saus, dan...hap...dan semua orang kelihatannya puas. Tapi,  bener ngga sih cara makan Steamboat seperti itu? Apakah ada cara lain yang lebih bener?


Selama ini saya memperhatikan ada dua cara orang makan Steamboat - yang kadang di restoran cina di Indonesia disebut Juan Lo - dan menurut saya dua-duanya ngga ada yang salah. It depends on your eating style!

Cara pertama, ya itu tadi, masukan semua bahan bersamaan ke dalam tungku yang berisi kaldu mendidih. Tunggu sampai matang lalu sikat sampai habis. Cara ini cocok banget kalau kita masuk golongan rapid eater karena kelemahan cara pertama ini adalah rasa makanan akan jadi ngga enak kalau kita makannya kelamaan.

Dengan cara ini semua sayur, daging, jamur, seafood, dan lain-lain akan masuk bersamaan; padahal mereka butuh waktu yang berbeda-beda untuk mencapai tingkat kematangan yang sempurna. Dan kalau kita perhatikan, sliced beef, sliced chicken breast, udang, cumi, dan beberapa bahan lainnya akan jadi alot kalau kelamaan direbus; tapi sayur, soun, mie, kembang tahu, dan tahu malah akan kehilangan tekstur. Sayur akan jadi kelihatan ugly dan jadi tidak renyah, sedangkan soun, bihun, mie, dan tahu malah akan jadi hancur. Tapi kalau cara makan kita tergolong cepat, hal ini tidak terlalu jadi masalah, asal kita tahu mana yang harus dimakan dulu dan mana yang dimakan belakangan.

Kelemahannya kalau ada bahan yang menggunakan bumbu perendam (marinade) dan kita tidak suka rasa kuah yang nano nano karena pasti rasa kuahnya akan jadi rame kalau ada tambahan marinated items di dalam tungku.

Saya perhatikan cara pertama ini jauh lebih populer dimana-mana; dari Sabang sampai Merauke, dari Shanghai hingga Sydney.  Messy, tapi seru!

Cara kedua lebih cocok kalau kita tidak suka makan yang terburu-buru dan kita ingin menikmati cita rasa tiap ingredients dengan lebih sempurna. Dalam cara ini, tiap bahan dimasak bergiliran, biasanya dimulai dengan memasukan bahan yang aromatic dan perlu waktu agak lama untuk matang seperti bawang bombay dan wortel. Lalu kemudian bahan lain yang cooking time-nya juga agak lama seperti kembang tahu dan hipiao (bagian perut ikan) - dan sambil menunggu bahan ini matang, masukan bahan lain satu per satu sampai habis.

Dengan cara seperti ini, kita hanya fokus pada satu sampai tiga bahan saja sehingga tingkat kematangan, tekstur, dan rasanya akan jadi sempurna. Sliced beef misalnya; cukup dicelup sebentar sampai pink (begitu warnanya berubah abu-abu berarti sudah terlalu matang) karena kalau masih pink seperti ini teksturnya masih empuk dan rasa gurih dagingnya paling top. Bahan lain yang sensitif terhadap cooking time misalnya udang dan cumi. Kalau matangnya pas, udang akan terasa manis dan renyah, tapi begitu terlalu matang rasa manisnya akan berkurang dan dagingnya akan terasa lebih keras. Cumi lebih parah, kalau terlalu matang pasti teksturnya akan terasa seperti sandal jepit.

Untuk marinated items masukan dulu bahan yang bumbu perendamnya asin, lalu yang manis, dan kalau ada yang pedas, masukan terakhir - kecuali kalau semua orang yang makan doyan pedas. Kalau Anda pesan nasi dan masih lapar di saat semua bahan sudah habis, Anda bisa campurkan kuah panas berbumbu tadi ke dalam mangkok berisi nasi. You'll get a very tasty rice congee.

Dua hal lain yang perlu diperhatikan kalau kita ingin tekstur yang sempurna adalah pengaturan api. Paling aman adalah kecilkan api setelah kuah kaldu mendidih dan bahan sudah masuk. Hal kedua adalah jangan masukan bahan terlalu banyak dalam waktu yang bersamaan karena kalau kita makannya agak lama, bahan yang tertinggal paling lama di dalam kaldu panas teksturnya akan makin alot atau malah mblenyek.

Cara yang kedua ini juga lebih friendly bagi para wine lovers karena kita bisa mengatur mana bahan yang cocok dengan wine yang kita buka. Kalau semua dicampur dari awal, tentu makin susah kita memilih wine mana yang cocok.

Cara favorit saya adalah cara yang kedua, dan saya selalu menambahkan beberapa tetes minyak wijen, kecap asin, dan sedikit merica ke dalam mangkok saya. Kalau ada telur mentah, saya juga suka mencampurkannya ke dalam kuah agar terasa lebih gurih.

Cara favorit Anda?

PS: salah satu resep steamboat sederhana kesukaan saya ada di buku ini 

7 comments:

  1. Kelihatannya patut ditiru cara kedua nya; thanks for sharing.

    Btw masih suka bawa sayur sendiri ke resto shabu? :D

    ReplyDelete
  2. Hahahaha, jangan tanya yg itu ah. Malu! :p

    ReplyDelete
  3. aku pernah ikut senior aku orang jepang makan steamboat, dan menurut aku adalah cara makan yang paling cocok. Dia ngajarin kalau mau makan steamboat, jangan masukin langsung semuanya, krn ada step step utk makan, dan tingkat kematangan masing masing bahan jg berbeda.
    Jadi dia masukan dulu sayuran dan kemudian setelah bbrp waktu di angkat, dan dimasukan ke dipping sauce, lalu masukan daging 1 slice.
    sambil makan sayur, pada saat daging baru akan mendekati "well done" langsung diangkat, dip in the sauce dan di makan. Dan seteguk sake.
    The best ever way to enjoy shabu shabu
    :D

    PS: kylie kwong, masakannya keren2 tuh, the tradional guangdong cuisine in modern cooking style to the perfection :D

    ReplyDelete
  4. Setuju Fer!

    ReplyDelete
  5. wah... nice info yo... nebeng share yah

    ReplyDelete
  6. Nasib baik ada tutorial tentang cara makan steamboat. Aku kerap melintas depan restoran steamboat, dan teringin nak mencuba, tetapi tak berani sebab tak tahu apa itu steamboat dan bagaimana cara nak makan.

    - dari Arau, Perlis

    ReplyDelete
  7. waw.. jadi pengen ke hanamasa.. hehe

    ReplyDelete